Dialog Abdullah bin Abbas dengan Khawarij

Di antara sekte atau aliran yang menyimpang
yang pertama kali muncul dalam Islam adalah
pemikiran Khawarij, sebuah sekte yang berbicara
tentang status keislaman seseorang, apakah
seseorang tersebut telah keluar dari Islam (kafir),
atau masih berada dalam lingkaran keislaman.
Pemikiran ini pertama kali muncul di zaman
kekhalifahan Ali bin Abi Thalibradhiallahu ‘anhu,
dan sekarang pemikiran ini kembali menyerebak
di tengah-tengah umat Islam yang popular
dengan istilah terorisme. Banyak orang-orang
yang sibuk membicarakan status keislaman orang
lain, terutama status keislaman para pemimpin
yang berhukum dengan undang-undang buatan
manusia.
.
Mereka adalah sebagian pemuda yang memiliki
semangat keislaman, namun mereka tergesa-
gesa menghukumi tanpa melakukan pengkajian
yang mendalam. Pemikiran ekstrim ini direspon
dengan berbagai tindakan, dan salah satu
tindakan yang dilakukan untuk memerangi
pemikiran teroris ini adalah dengan cara
berdialog. Cara ini termasuk cara yang paling
efektif untuk memeranginya, karena sebuah
pemikiran idealnya dihadapi juga dengan
pemikiran.
.
Berikut ini, kami cuplikkan sebuah kisah tentang
ketergesa-gesaan orang-orang Khawarij dalam
memvonis hukum kafir dan kedangakalan mereka
dalam memahami ayat-ayat Alquran, mudah-
mudahan para pemuda yang memiliki semangat
dalam berislam bisa mengambil pelajaran dari
kisah ini dan terhindar dari pemikiran terorisme
yang bermudah-mudahan dalam memvonis kafir
seseorang.
.
Ali bin Abi Thalib mengirim Abdullah bin Abbas
kepada orang-orang Khawarij untuk berdialog
bersama mereka. Kisah dialog Ibnu Abbas ini
dicatat oleh Imam Ibnu al-Jauzi dalam
kitabnyaTalbis Iblis sebagai berikut:
.
Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Orang-
orang Khawarij memisahkan diri dari Ali
radhiallahu ‘anhu, berkumpul di satu daerah untuk
memberontak kepada khalifah. Ketika itu, jumlah
mereka enam ribu orang.
.
Semenjak Khawarij berkumpul, setiap orang yang
mengunjungi Ali radhiallahu ‘anhu berkata –
mengingatkannya–, “Wahai Amirul Mukminin,
orang-orang Khawarij telah berkumpul untuk
memerangimu.”
.
Ali menjawab, “Biarkan saja, aku tidak akan
memerangi mereka hingga mereka memerangiku,
dan pasti mereka akan melakukannya.”
.
Hingga di suatu hari yang terik, saat masuk
waktu zuhur aku menjumpai Ali radhiallahu ‘anhu.
Aku (Ibnu Abbas) berkata, “Wahai Amirul
Mukminin, tunggulah cuaca dingin untuk shalat
zuhur, sepertinya aku akan mendatangi mereka
(Khawarij) berdialog.”
.
Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata,
“Wahai Ibnu Abbas, sungguh aku
mengkhawatirkanmu!”
.
Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma menjawab,
“Wahai Amirul Mukminin, janganlah kau
khawatirkan diriku. Aku bukanlah orang yang
berakhlak buruk dan aku tidak pernah menyakiti
seorang pun.” Maka Ali pun mengizinkanku.
.
“Jubah terbaik dari Yaman segera kupakai,
kurapikan rambutku, dan kulangkahkan kaki ini
hingga masuk di barisan mereka di tengah siang.”
.
Ibnu Abbas radhiallahu‘anh
uma berkata, “Aku
benar-benar berada di tengah suatu kaum yang
belum pernah kujumpai orang yang sangat
bersemangat beribadah seperti mereka. Dahi-dahi
mereka penuh luka bekas sujud, tangan-tangan
menebal bak lutut-lutut unta (kapalan). Wajah-
wajah mereka pucat pasi karena tidak tidur,
menghabiskan malam untuk beribadah.”
.
Kuucapkan salam pada mereka. Serempak
mereka menyambutku, “Selamat datang, wahai
Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma. Apa gerangan
yang membawamu kemari?”
.
Aku berkata, “Aku datang pada kalian sebagai
perwakilan dari sahabat Muhajirin dan sahabat
Anshar, dan juga dari sisi menantu Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wa sallam (yakni Ali bin Abi
Thalib), kepada para sahabat-lah Alquran
diturunkan dan merekalah orang-orang yang
paling mengerti makna Alquran daripada kalian.”
.
Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma mengingatkan
tentang kedudukan sahabat Muhajirin dan Anshar
dan bagaimana seharusnya prinsip seorang
muslim dalam memahami Alquran dan sunnah
yaitu mengembalikan kepada pemahaman
sahabat yang kepada merekalah Alquran
diturunkan, dan merekalah orang yang paling
mengerti Alquran dan sunnah. Ibnu Abbas juga
menegaskan besarnya kedudukan Ali bin Abi
Thalib radhiallahu ‘anhu di sisi Allah, yaitu
menantu Rasulullahshalallahu ‘alaihi wa sallam.
.
Begitu mendengar ucapan Ibnu Abbas yang
penuh makna dan merupakan prinsip hidup –
yang tentunya tidak mereka sukai karena
menyelisihi prinsip sesat mereka–,sebagian
Khawarij memberi peringatan, “Jangan sekali-kali
kalian berdebat dengan seorang Quraisy (yakni
Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, pen.).
Sesungguhnya Allah Subhanahu wa
Ta’alaberfirman:
.
ﺑَﻞْ ﻫُﻢْ ﻗَﻮْﻡٌ ﺧَﺼِﻤُﻮﻥَ
.
“Sebenarnya mereka adalah kaum yang suka
bertengkar.” (Az-Zukhruf: 58)
.
Ibnul Jauzi kembali melanjutkan kisah ini: Dua
atau tiga orang dari mereka berkata, “Biarlah
kami yang akan mendebatnya!”.
.
Ibnu Abbas berkata, “Wahai kaum, beri aku
alasan, mengapa kalian membenci menantu
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam beserta
sahabat Muhajirin dan Anshar, padahal Alquran
diturunkan kepada mereka, dan tidak ada seorang
sahabat pun yang bersama kalian. Ali adalah
orang yang paling mengerti tentang penafsiran
Alquran.”
.
Mereka berkata, “Kami punya tiga alasan.”
.
Ibnu Abbas mengatakan, “Sebutkan (tiga alasan
kalian).”
“Pertama, sungguh Ali telah menjadikan manusia
sebagai hakim (pemutus perkara) dalam urusan
Allah, padahal Allah berfirman,
.
“…Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah
…” (Yusuf: 40)
.
Hukum manusia tidak ada artinya di hadapan
firman AllahTa’ala. Kata mereka.
Ibnu Abbas menanggapi, “Ini alasan kalian yang
pertama. Lalu apa lagi?”
.
Mereka melanjutkan, “Kedua, sesungguhnya Ali
telah berperang dan membunuh, tapi mengapa
tidak mau menawan dan mengambil ghanimah?
Kalau mereka (orang-orang yang berperang
melawan Ali) itu mukmin tentu tidak halal bagi
kita memerangi dan membunuh mereka. Tidak
halal pula tawanan-tawanan
nya.”
.
Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bertanya lagi,
“Lalu apa alasan kalian yang ketiga?”
.
Kata mereka, “Ketiga, dia telah menghapus
sebutan Amirul Mukminin dari dirinya. Kalau dia
bukan amirul mukminin (karena menghapus
sebutan itu) berarti dia adalah amirul kafirin
(pemimpin orang-orang kafir).”
.
Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Ada
alasan selain ini?” Mereka berkata, “Cukup sudah
bagi kami tiga perkara ini!”
.
Bantahan Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma atas
dangkalnya pemahaman Khawarij
.
Lihatlah, bagaimana Khawarij mudah memvonis
kafir, dan memberontak sekalipun kepada
khalifah ar-Rasyid yang penuh keutamaan dan
kemuliaan. Alasan-alasan mereka adalah
kerancuan yang sangat lemah dan menunjukkan
kedangkalan mereka dalam memahami Alquran
dan sunnah.
.
Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma mulai
menanggapi, “Ucapan kalian bahwa Ali
radhiallahu ‘anhu telah menjadikan manusia
untuk memutuskan perkara (untuk mendamaikan
persengketaan antara kaum muslimin -pen),
sebagai jawabannya akan kubacakan ayat yang
membatalkan kerancuan kalian. Jika ucapan
kalian terbantah, maukah kalian kembali (kepada
jalan yang benar)?”
.
Mereka menjawab, “Ya, tentu kami akan
kembali.”
.
Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata,
“Ketahuilah, sesungguhnya Allah Subhanahu wa
Ta’ala telah menyerahkan sebagian hukum-Nya
kepada keputusan manusia, seperti dalam
menentukan harga kelinci (sebagai tebusan atas
kelinci yang dibunuh saat ihram) Allah
Subhanahu wa Ta’alal berfirman,
.
ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻟَﺎ ﺗَﻘْﺘُﻠُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﻴْﺪَ ﻭَﺃَﻧْﺘُﻢْ ﺣُﺮُﻡٌ ﻭَﻣَﻦْ
ﻗَﺘَﻠَﻪُ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﻣُﺘَﻌَﻤِّﺪًﺍ ﻓَﺠَﺰَﺍﺀٌ ﻣِﺜْﻞُ ﻣَﺎ ﻗَﺘَﻞَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﻌَﻢِ ﻳَﺤْﻜُﻢُ
ﺑِﻪِ ﺫَﻭَﺍ ﻋَﺪْﻝٍ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﻫَﺪْﻳًﺎ ﺑَﺎﻟِﻎَ ﺍﻟْﻜَﻌْﺒَﺔِ ﺃَﻭْ ﻛَﻔَّﺎﺭَﺓٌ ﻃَﻌَﺎﻡُ
ﻣَﺴَﺎﻛِﻴﻦَ ﺃَﻭْ ﻋَﺪْﻝُ ﺫَٰﻟِﻚَ ﺻِﻴَﺎﻣًﺎ ﻟِﻴَﺬُﻭﻕَ ﻭَﺑَﺎﻝَ ﺃَﻣْﺮِﻩِ ﻋَﻔَﺎ ﺍﻟﻠَّﻪُ
ﻋَﻤَّﺎ ﺳَﻠَﻒَ ۚ ﻭَﻣَﻦْ ﻋَﺎﺩَ ﻓَﻴَﻨْﺘَﻘِﻢُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻣِﻨْﻪُ ۗ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﺰِﻳﺰٌ ﺫُﻭ
ﺍﻧْﺘِﻘَﺎﻡٍ
.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang
ihram. Barangsiapa di antara kamu
membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya
ialah mengganti dengan binatang ternak
seimbang dengan buruan yang dibunuhnya,
menurut putusan (hukum) dua orang yang adil di
antara kamu, sebagai hadyu yang dibawa sampai
ke Ka’bah, atau (dendanya) membayar kafarat
dengan memberi makan orang-orang miskin, atau
berpuasa seimbang dengan makanan yang
dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat
buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan
apa yang telah lalu. Dan barangsiapa yang
kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan
menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi mempunyai
(kekuasaan untuk) menyiksa.” (QS. Al-Maidah:
95)
.
Demikian pula dalam perkara perempuan dan
suaminya yang bersengketa, Allah Subhanahu wa
Ta’ala juga menyerahkan hukumnya kepada
hukum (keputusan) manusia untuk mendamaikan
antara keduanya. Allah Ta’ala berfirman,
.
ﻭَﺇِﻥْ ﺧِﻔْﺘُﻢْ ﺷِﻘَﺎﻕَ ﺑَﻴْﻨِﻬِﻤَﺎ ﻓَﺎﺑْﻌَﺜُﻮﺍ ﺣَﻜَﻤًﺎ ﻣِﻦْ ﺃَﻫْﻠِﻪِ ﻭَﺣَﻜَﻤًﺎ
ﻣِﻦْ ﺃَﻫْﻠِﻬَﺎ ﺇِﻥْ ﻳُﺮِﻳﺪَﺍ ﺇِﺻْﻠَﺎﺣًﺎ ﻳُﻮَﻓِّﻖِ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻤَﺎ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ
ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻠِﻴﻤًﺎ ﺧَﺒِﻴﺮًﺍ
.
“Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan
antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam
dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari
keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu
bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah
memberi taufik kepada suami-istri itu.
Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha
mengenal.” (QS. An-Nisa: 35)
.
Demi Allah, jawablah, apakah diutusnya seorang
manusia untuk mendamaikan hubungan mereka
dan mencegah pertumpahan darah di antara
mereka lebih pantas untuk dilakukan, atau hukum
manusia perihal darah seekor kelinci dan urusan
pernikahan wanita? Menurut kalian manakah
yang lebih pantas?”
.
Mereka katakana, “Inilah (yakni mengutus
manusia untuk mendamaikan manusia dari
pertumpahan darah) yang lebih pantas.”
Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Apakah
kalian telah memahami masalah pertama?”
Mereka berkata, “Ya.”
.
Ibnu Abbas melanjutkan, “Adapun ucapan kalian
bahwa Aliradhiallahu ‘anhu telah berperang tapi
tidak mau mengambil ghanimah dari yang
diperangi dan tidak menjadikan mereka sebagai
tawanan, sungguh (dalam alasan kedua ini)
kalian telah mencerca ibu kalian (yakni Aisyah).
.
Demi Allah! Kalau kalian katakan bahwa Aisyah
bukan ibu kita, kalian telah keluar dari Islam
(karena mengingkari firman Allah Subhanahu wa
Ta’ala). Demikian pula kalau kalian menjadikan
Aisyah sebagai tawanan perang dan
menganggapnya halal sebagaimana tawanan
lainnya (sebagaimana layaknya orang-orang
kafir), maka kalian pun keluar dari Islam.
Sesungguhnya kalian berada di antara dua
kesesatan, karena AllahSubhanahu wa Ta’ala
berfirman,
.
ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺃَﻭْﻟَﻰٰ ﺑِﺎﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﻣِﻦْ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻬِﻢْ ۖ ﻭَﺃَﺯْﻭَﺍﺟُﻪُ ﺃُﻣَّﻬَﺎﺗُﻬُﻢْ ۗ
.
“Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin
dari diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah
ibu-ibu mereka.” (QS. Al-Ahzab: 6)
.
Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Apakah
kalian telah memahami masalah ini?”
.
Mereka menjawab, “Ya.”
.
Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata lagi,
“Adapun ucapan kalian bahwasanya Ali telah
menghapus sebutan Amirul Mukminin dari dirinya,
maka (sebagai jawabannya) aku akan kisahkan
kepada kalian tentang seorang yang kalian ridhai,
yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ketahuilah, bahwasanya beliau di hari Hudaibiyah
(6 H) melakukan shulh(perjanjian damai) dengan
orang-orang musyrikin, Abu Sufyan dan Suhail bin
Amr. Tahukah kalian apa yang terjadi?
.
Ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda kepada Ali, “Wahai Ali, tulislah
perjanjian untuk mereka.” Ali menulis, “Inilah
perjanjian antara Muhammad Rasulullah…”
.
Orang-orang musyrik berkata, “Demi Allah! Kami
tidak tahu kalau engkau rasul Allah. Kalau kami
mengakui engkau sebagai utusan Allah tentu
kami tidak akan memerangimu.”
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Ya Allah , sungguh engkau mengetahui bahwa
aku adalah Rasulullah. Wahai Ali, tulislah ‘Ini
adalah perjanjian antara Muhammad bin
Abdilah…’.” (Rasulullah memerintahkan Ali
untukmenghapus sebutan Rasulullah dalam
perjanjian, pen.)
.
Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Demi
Allah, sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam lebih mulia dari Ali, meskipun demikian
beliau menghapuskan sebutan rasulullah dalam
perjanjian Hudaibiyah…” (Apakah dengan perintah
Rasul menghapuskan kata rasulullah dalam
perjanjian kemudian kalian mengingkari kerasulan
beliau? Sebagaimana kalian ingkari keislaman Ali
karena menghapus sebutan Amirul Mukminin?)
.
Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Maka
kembalilah dua ribu orang dari mereka,
sementara lainnya tetap memberontak (dan
berada di atas kesesatan), hingga mereka
diperangi dalam sebuah peperangan besar (yakni
perang Nahrawan).”
.
Demikian tiga kerancuan pola pikir Khawarij yang
mereka jadikan sebagai alasan memberontak dan
memerangi Aliradhiallahu ‘anhu. Semua
kerancuan tersebut terbantah dalam dialog
mereka dengan Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma.
Maka selamatlah mereka yang mau mendengar
sahabat dan menjadikan mereka sebagai rujukan
dalam memahami Alquran dan sunnah.
.
Kemudian dalam al-Bidayah wa an-Nihayah,
Imam Ibnu Katsir melanjutkan kisah ini.
.
Abdullah bin Abbas membawa mereka ke
hadapan Ali bin Abi Thalib di Kufah.
.
Setelah itu, Ali mengirim utusan kepada orang-
orang Khawarij yang tersisa, ia berkata,
“Sesungguhnya kalian telah menyaksikan apa
yang telah dialami olehku dan orang-orang
secara umum. Berbuatlah semau kalian hingga
umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersatu. Di antara kita ada sebuah perjanjian,
tidak boleh menumpahkan darah yang haram
dibunuh, tidak boleh menyabotase jalan dan tidak
boleh menzalimi ahli zhimmah. Jika kalian
melanggarnya, maka kami akan membalasnya
dengan pembalasan yang setimpal. Allah
berfirman,
.
ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻟَﺎ ﻳُﺤِﺐُّ ﺍﻟْﺨَﺎﺋِﻨِﻴﻦَ
.
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang
yang berkhianat.” (QS. Al-Anfal: 58)
.
Tidak lama setelah itu, mereka menyabotase
jalan, membunuh orang-orang yang tak bersalah,
menghalalkan darah ahli zhimmah hingga mereka
dikalahkan dalam Perang Nahrawan. Setelah itu
mereka membalas dendam dan yang
mengakibatkan tewasnya Khalifah ar-Rasyid Ali
bin Abi Thalibradhiallahu ‘anhu.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Dialog Abdullah bin Abbas dengan Khawarij"

Posting Komentar